Pandangan Pertama

          Rachel berdiam diri di kamarnya yang luas pada minggu malam, menatap keluar jendela hampa mengingat kembali apa yang dikatakan ayahnya kemarin bahwa gadis berambut panjang itu akan dijodohkan dengan seorang anak teman kerja ayahnya dari perusahaan Korea dengan alasan agar kerjasama antara dua perusahaan besar itu berjalan sesuai harapan. Dan besok adalah keberangkatannya ke negeri ginseng. Selain itu Rachel harus pindah kuliah ke Korea, sangat menyebalkan tapi mau tidak mau dia harus menuruti perintah orang tunyaa.

            “Huhh…” gadis itu menghembuskan nafas, tidak bersemngat. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya, dia adalah asisten rumah tangga di rumah itu.

            “Permisi nona Rachel, apa nona tidak ingin makan? Sejak tadi siang nona hanya di dalam kamar.” tanya bi Sumi. Ya itu benar sejak tadi siang Rachel tidak makan sama sekali, moodnya hancur untuk melakukan sesuatu, menggerakkan kepalanya saja butuh usaha yang besar.

            Tapi gadis itu menanggapi ucapan bibi, karena hanya dia yang selalu di rumah dan menemani ketika dia sendiri, “Iya bi, aku mau nasi goreng. Tolong buatkan ya.” Perintahnya  lembut, “Baik nona”. Rachel segera turun keluar kamar dan menuju ruang makan, menunggu masakan bi Sumi untuk makan malam. Selang beberapa menit masakan bi Sumi sudah siap, cacing-cacing di perutnya juga sudah berdemo. Dia menyantap makan malam ku dengan nikmat, suasana yang sunyi ini semakin membuat gadis jangkung itu tertekan akan hari esok.

            Pagi menjelang, matahari sudah memulai aktivitasnya dan Rachel juga sudah disibukkan untuk mempersiapkan keberangkatkannya ke Korea. Mobil yang akan mengantarkannya ke bandara sudah siap, dia pun langsung masuk ke dalamnya dan menuju bandara. Sesampai di bandara tanpa berfikir panajang gadis pencinta kucing ini langsung menuju gerbang keberangkatan yang 20 menit lagi akan mengudara. Iamelirik jam tangan yang menunjukkan pukul 07.20 sedangkan pesawat akan berangkat pada pukul 07.40 sehingga mempercepat langkahnya agar tidak terlambat.

            Di dalam pesawat, mahasiswi fakultas psikologi itu hanya diam memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah tiba di negeri yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang. Dia hanya mendengarkan lagu di iPodnya dan sesekali membaca komik kesukaannya. Setiba di bandara Incheon, Rachel memandang seluruh penjuru bandara internasional itu mencari orang yang akan membawanya ke pertemuan sederhana antara keluarga Haryanto dengan keluarga Kim.

            “Rachel-ssi… Rachel-ssi…” ada seseorang yang memanggil namanya dengan bahasa Korea, Rachel mencari asal suara tersebut dan bingo dia menemukannya kemudian menghampirinya

            “Apakah anda yang menjemputku?” tanya Rachel mengunakan bahasa Inggris, untungnya pria itu mengerti bahasa Inggris, “Ya benar. Perkenalkan nama saya Jimin Park, panggil saja saya Jimin.” Ucapnya dengan fasih dengan senyum yang indah, “Oh baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi dari sini” ajaknya kepada Jimin. Dan pria mata sipit itu buru-buru mengajaknya ke mobil pribadi tuan Kim dan mengantarnya ke sebuah tempat pertemuan.

            Sesampainya, Rachel diantar masuk kedalam oleh Jimin dan disambut hangat oleh kedua keluarga. Kedua keluarga itu tersenyum bahagia apalagi ibu Rachel, nyonya Anna sanggat membanggakan anak semata wayangnya. Rachel hanya menunduk malu dan pipinya merona merah ketika seorang pria yang duduk disebelah Nyonya Kim, ibu pria tersebut memandangnya kagum, “cantik” pikir pria bersurai kecoklatan itu. Mereka pun duduk kembali, membicarakan pernikahan sejoli yang diadakan seminggu lagi. Gaun, jas, gedung, tempat sudah dipersiapkan dari dua bulan yang lalu hanya tinggal mempertemukan anak mereka saja agar mengenal lebih jauh.

            Pria bernama Kim Taehyung itu terus memandangi wajah Rachel tanpa celah sedikit pun sehingga membuat Rachel salah tingkah, dia pun memberanikan diri menatap pria didepannya. Gugup dan malu itulah yang dirasakanya saat mentap Taehyung, mereka saling tersenyum. Rachel merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, dia merasakan sesuatu yang aneh, hatinya seakan berbicara jika Taehyung adalah jodohnya dan Rachel mulai merasakan cinta kepada pria jangkung itu.

            Pertemuan selesai kedua orang tua Rachel dan Taeheyung sudah pergi meningal mereka hanya berdua saja di restoran itu. Rache semakin gugup dan tidak tahu harus bagaimana dia terlalu gugup sedangkan Taehyung masih terus menatap gadis di depannya. Dia begitu karena Taehyung ingin menggodanya sebentar sebelum mereka benar-benar menjadi suami-istri yang sah. Barulah dia membuka pembicaraan “Ingin berjalan-jalan keliling kota Seoul?” ajaknya dengan fasih dalam bahasa Inggris.

            “Ya, boleh saja. Kalau itu tidak merepotkan.” Jawab Rachel canggung juga menggunakan bahasa Inggris. Langsung saja Taehyung menggenggam tangan Rachel dan menarikknya masuk ke dalam mobil kesayangannya. Taehyung tersenyum kemenangan, gadis di belakangnya pun tersenyum bahagia. Taehyung mulai menyalakan mobilnya dan mengendarai ke tempat-tempat indah di Seoul yang dijadikan wisata untuk turis.

            Mereka pergi ke beberapa tempat, mahasiswa jurusan bisnis itu bagaikan tour guide pribadi Rachel karena Taehyung terus menceritakan hal-hal yang menarik tentang ibu kota Korea Selatan itu. Sejoli itu sudah tidak canggung lagi dan lebih banyak berbincang,kadang dalam perbincangan mereka diselingi tawaan dan candaan. Tanpa tersadari Taehyung merasa nyaman bersama Rachel dan dia menyukai senyum tulus dan polosnya Rachel. Begitupun dengan gadis itu. Mereka sangat bahagia.

            Hingga mereka sering pergi berdua, berbagi cerita tentang diri mereka sendiri, hobi mereka, makanan kesukaan mereka, hal yang paling mereka benci dan sebagainya. Sampai pada akhirnya hari pernikahan mereka tiba. Mereka mengucapkan janji mereka di depan altar dengan perasaan berbunga-bunga. Tamu undangan yang hadir pun hanya keluarga inti, kerabat kedua keluarga, dan para pemegang saham. Pernikahan mereka bersifat tertutup dan hikmat. Kehidupan pasangan muda ini pun bahagia walaupun mereka tahu akan menghadapi masalah layaknya suami-istri. Mempunyai anak, pertengkaran kecil, dan sebagainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s