Makalah Perkembangan Kreativitas dan Keberbakatan

MAKALAH

PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN

 

Logo gundar

 

Disusun Oleh :

NURMALINDA RUSANTI (18514235)

RIBKA TOBING (19514237)

VIDYAKANSHA PURNAGITA (1c5144040)

 

 

 

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji dan syukur penulis haturkan  kehadirat ALLAH SWT, atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Tugas Portofolio 2”.

Makalah ini dibuat dalam rangka memahami teori-teori mengenai kreativitas dan keberbakatan serta segala yang berkaitan dengannya. Selain itu, tugas ini dibuat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang mahasiswa, serta untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan. Dalam proses pembuatan makalah ini tentu penulis mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu Nita Sri Handayani, SPsi selaku dosen Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan serta rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan aspirasinya dalam pembuatan makalah.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.

 

 

Bekasi, Mei 2015

Penulis

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                                                                                       2

Daftar Isi                                                                                                                                 3

BAB I PENDAHULUAN                                                                                                     4

  • Latar Belakang                                                                                                 4

BAB II PEMBAHASAN                                                                                                      5

2.1 Arti Belajar Kreatif                                                                                               5

2.1.1 Pengertian Belajar Kreatif                                                                     5

2.1.2 Proses Belajar Kreatif                                                                            5

2.1.3 Mengapa Belajar Kreatif Itu Penting                                                     7

2.2.4 Tiga Tingkat Belajar Kreatif                                                                  7

2.2 Mengajar Kreatif                                                                                                   9

2.2.1 Pengertian Mengajar Kreatif                                                                  9

2.2.2 Teknik Belajar Meliputi:                                                             9

2.2.2.1 Memberikan Pemanasan                                                         9

2.2.2.2 Pemikiran dan 4 Terbuka                                                        10

2.3 Memupuk Iklim Belajar Kreatif                                                                            11

2.3.1 Jelaskan Strategis Memupuk Iklim Belajar yang Kreatif                       11

2.3.2 Menjelaskan Saran Tambahan dalam Memupuk Belajar Kreatif           12

BAB III KESIMPULAN                                                                                                       13

DAFTAR PUSTAKA                                                                                                                     14

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • LATAR BELAKANG

Bakat adalah anugrah yang tidak boleh disia-siakan dan harus dikembangkan secara maksimal. Setiap manusia terlahir dengan memiliki bakat tertentu. Bakat adalah sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk membangkitkan dan mengembangkannya Seperti halnya bakat, kreativitas yang dimiliki oleh seseorang juga anugrah yang harus dipergunakan secara tepat sasaran.

Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat , juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kreativitas erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kreativitas selalu berada dibelakang sebuah penemuan besar.

Kreativitas dan bakat sangat dibutuhkan individu untuk bisa melewati seleksi alam. Perpaduan keduanya juga sangat diperlukan untuk menghasilkan produk kreativitas yang bermanfaat.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Arti Belajar Kreatif

2.1.1 Pengertian Belajar Kreatif

          Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada dengan demikian baik berubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif (Munandar, 1995 : 12).

Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya (Supriyadi, 1994 : 7).

Secara psikoligis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “belajar juga adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003 : 2).

Ahli pendidikan modern merumuskan bahwa belajar adalah suatu  bentuk pertmbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Aqib, 2003 : 42). Belajar merupakan kegiatanyang terjadi pada semua orang  tanpa mengenal batas usia dan berlangsung seumur hidup (Rohadi, 2003 : 4). Dengan demikian belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah.

2.1.2. Liputan Proses Belajar Kreatif

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar yaitu:

  1. Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
  2. Memberikan Pemanasan

Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan  pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.

  1. Pengaturan Fisik

Membagi siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok.

  1. Kesibukan Dalam Kelas

kegiatan belajar secara kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa oleh karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus dapat membedakan kesibukan yang asyik sert suara-suara yang produktif yang menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.
d.      Guru sebagai Fasilitator

Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator gurumendorong siswa (memotivator) untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasa dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara keatif (Munandar, 2009 : 78-81).

2 Mengajukan dan mengundang pertanyaan

Dalam proses belajar mengjar, diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.

  1. Tehnik Bertanya

Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka.

  1. Metode Diskusi

Dalammetode dikusi, peran guru dangat menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan masalah kepada siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan untuk membahas masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul kemacetan dalam diskusi atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar siswa tidak terlalu menyimpang dari arah yang dituju.

  1. Metode Inquiri-Discovery

Pendekatan inquiry (pengajuan pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan masalah melalui inquiry, pertama adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor yang memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan  merumuskan  masalah (tahap kedua), pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai strategi kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah dihimpun. Tahap ketiga adalah mencari atau  menjajaki (searching).

  1. Mengajukan pertanyaan yang menantang (provokatif)

Salah satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi di sini.

Memadukan perkembangan kognitif (berfikir), afektif (sikap) dan Psikomotorik (perasaan).Dalam rangka membangun manusia seutuhnya perlu ada keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu perkembangan  mental intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan perkembangan moral

2.1.3 Mengapa Belajar Kreatif Itu Penting

Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.

  1. Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
  2. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
  3. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
  4. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.

2.1.4.Tiga Tingkat Belajar Kreatif (model triffinger)

Dalam pembelajaran kreatif, terdapat teknik-teknik tertentu yang penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen. Tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuk. Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut :
Teknik-teknik kreatif tingkat pertama

Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan pada fungsi-fungsi divergen in antara lain menggunakan teknik pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat,dan hubungan yang dipaksakan.

Tekhnik kreatif tingkat Kedua

Dalam teknik- Menyusun kembali (rearrange): komponen yang saling dapat
menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya.
Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan
menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan.

Teknik kreatif tingkat ketiga

Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif. PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini.

 

2.2 Mengajar Kreatif

2.2.1 Pengertian Mengajar Kreatif

          Kreatif mengajar didefinisikan sebagai suatu kualitas dimana guru harus mengembangkan ide-ide yang baru dan imajinatif dalam mengajar. Sebenrnya ide-ide yang diucapkan atau divisualisasikan dalam kegiatan dikelas dapat menjadi sedinamis dan sepenting ide-ide yang dihasilkan oleh para seniman atau musisi. Guru yang memberikan pandangan dan pedekatan baru suasana belajar mengajar adalah seorang seniman yang sesunggunya.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kemampuan untuk mencipta atas bersifat (mengandung daya cipta pekerjaan yang meghendaki kecerdasan dan intelegensi. Salah satu ahli pelopor tentang kreativitas adalah Anderos (1951) beliau berpendapat bahwa kreativitas adalah proses yang dilalui oleh seorang invidu ditengah-tengah pengorbanannya dan yang menyebabkannya untuk meperbaiki dan mengembangkan dirinya.

2.2.2 Teknik Belajar Meliputi

Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) yang telah disusun oleh Conny R. Semiawan (1997). Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen; tingkat kedua adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuk. Tingkat ketiga adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian masing-masing dari tingkatan tersebut disajikan sebagai berikut:

  • Teknik-teknik Kreatif tingkat pertama

Teknik pemebelajaran tingkat pertama yang menekankan pada fungsi-fungsi divergen diantara lain menggunakan teknik pemanasan, pemikiran, dan perasaan terbuka, sumbang saran dan penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan. Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai beikut:

  1. Pengahiran terbuka (oopen endedess). Kegiatan-kegiatan pada tingkat ini menghendaki ditemukannya sejumlah kemungkinan jawaban. Bukan dikemukakannya semua jawaban yang benar.
  2. Penerimaan banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah ditemukannya jawaban-jawaban yang bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak lazim, aneh, atau luar biasa. Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan menghargai, sebagaimana kita menghargai gagasan yang wajar.
  3. Gagasan tingkat satu membina kita untuk menerima pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau pikiran yang terikat dengan kita.
  4. Guru bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak mungkin dalam setiap situasi.

Beberapa teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas diuraikan sebagai berikut:

2.2.2.2 Pemanasan

Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan peserta didik yang digunakan pada tahap awal pembelajaran. Tahap pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran peserta didik dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Peserta didik dikondisikan untuk terbebas dari kebiasaan menjawab dengan tepat, dari batasan batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide.

Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan peserta didik sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal dan masalah baru yang akan dipelajari pada tahap pembelajaran berikutnya.

  • Pemikran dan Perasaan Berakhir Terbuka

Teknik pemikiran dan perasaan berakhir terbuka ingin mengupayakan agar peserta didik terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertanyaan dan memungkinkan peserta didik mengungkapkan segala perasaan dan pikiran sebagai jawaban. Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengahiran terbuka dapat dicontohkan sebagai berikut:

  • Andai kata

Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang situasi yang tidak benar atau sesuatu yang bertentangan dengan fakta.

  • Peningkatan suatu roduk

Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pengungkapan pemikiran pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi yang telah ada. Contoh: Bagaimana cara memperbaiki cara belajar yang biasa dilakukan sekarang.

  • Pemulaan yang tidak selesai

Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaannya.

  • Penggunaan baru dari objek-objek umum

Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda atau hal untuk dipikirkan fungsi lainnya dilain fungsi yang lazim. Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.

  • Alternatif judul. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh kepada peserta didik diperlihatkan naskah sebuah cerita, lukisan, atau gambar-gambar tentang sesuatu.
    • Memupuk Iklim Belajar Kreatif

2.3.1 Jelaskan Strategis Memupuk Iklim Belajar yang Kreatif

Menurut Torrance (1967), pengajaran kreatif ialah pengajaran untuk mengembangkan kreativitas siswa, yang meliputi adanya hubunga kreatif guru-siswa dan digunakannya metode-metode mengajar kreatif. Ditambahkan pula bahwa antara guru dan siswa perlu membina hubungan yang kreatif, yaitu hubungan yang megembangkan proses berfikir yang otomatis, cepat, dan spontan, serta menghindari hubungan yang reaktif, yang justru mengganggu proses berfikir tersebut.

Menurut Conny Semiawan (1988) pengajaran kreatif memungkinkan siswa belajr kreatif, yaitu belajar yang mengasyikkan, yang menggerakkan potensi kreaitvitas, dan menimbulkan berbagai getaran penemuan terhadap hal-hal yang sebelumnya belum diketahui, dikenal atau dipahaminya. Sebagaimana pengalamanbelajar yang sangat menyenangkan, pada belajar kreatif siswa terlibat secra aktif sertaingin mendalami bahan yan dipelajari, digunakan proses berpikir divergen dan proses berpikir konvergen serta berpikir kritis. Belajar kreatif banyak memberi peluang untuk mencegah penurunan kreativitas siswa (Semiawan, 1988).

Faktor penting dalam meningkatkan kreativitas di sekolah adalah peran guru. Banyak sekali hal yang dapat dilakukan guru di sekolah untuk merangsang danmeningkatkan daya pikir siswa, sikap dan perilaku kreatif siswa, melalui kegiatan di dalam atau di luar kelas. Potensi kreatif siswa di sekolah dapat ditingkatkan dengan cara mengusahakan iklim di dalam kelas yang dapat menggugah kreativitas siswa

Selanjutnya guru harus menghargai keunikan pribadi dan potensi setiap siswa dan tidak perlu selalu menuntut dilakukannya hal-hal yang sama (Utami Munandar, 1988). Pada waktu tertentu siswa diberi kebebasan untuk melakukan atau membuat sesuatu yang disenangi oleh siswa. Dalam kegiatan belajar, proses berfikir kreatif dan pemeca-han masalah secara kreatif dirangsang dengan mengundang siswa untuk mengajukan pertanyaan, untuk menemukan masalah sendiri, untuk menggunakan imajinasinya dalam mengemukakan macam-macam gagasan atau kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan

Sedangkan cara mengajar yang kedua adalah guru cenderung untukmerespon kualitas sosial-emosional dari siswa, daripada performansi kognitifnya. Cara mengajar kedua tersebut dicirikan dengan tindakan guru yang membebaskan siswa, namun kurang perhatian terhadap prestasi dan perfomansi siswa. Kuncinyaadalah kebebasan saja tidak cukup, guru harus memperhatikan bahwa teman-teman dikelas dari siswa yang kreatif mungkin tidak toleran dengan cara berfikir divergen. Mereka bahkan akan menganggap siswa yang kreatif sebagai orang yang memiliki ide yang gila.

Dalam melaksanakan pengajaran kreatif, guru harus kreatif dan memiliki semangat petualang (Torrance, 1967). Hal ini berarti bahwa cara guru mengajar seharusnya bervariasi, dengan untuk mencoba-coba sesuatu yang baru, tidak kaku dalam melaksanakan kurikulum atau aturan-aturan yang ada, serta bersikap hangat kepada siswa. Guru dalam mengajar hendaknya juga menciptakan lingkungan yang merangsang belajar kreatif, terampil mengajukan dan mengundang pertanyaan, dan dapat memadukan perkembangan kognitif dan afektif (Munandar, 1987). Munandar (1987) memberikan saran agar guru dapat mengajar secara kreatif. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut :

  • Guru menghargai kreativitas siswa
    • Guru bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan baru
    • Guru mengakui dan menghargai adanya perbedaan individual
    • Guru bersikap menerima dan menunjang anak
    • Guru menyediakan pengalaman mengajar yang berdiferensisasi
    • Guru cukup memberikan struktur dalam mengajar sehingga anak tidak merasa
    • Ragu-ragu tetapi di lain pihak cukup luwes sehingga tidak menghamabat pemikiran, sikap dan perilaku     kreatif anak
    • Setiap anak ikut mengambil bagian dalam merencanakan pekerjaan sendiri dan pekerjaan kelompok.
    • Guru tidak bersikap sebagai tokoh yang “maha mengetahui” tetapi menyadari
    keterbatasannya sendiri.
    Horrocks (1985) memberikan saran bagi guru untuk mengembangkan kreativitas anak seperti berikut :
    • Provide for variety in instructional materials and forms of student Exprssion
    • Develop favorable attitudes toward creative achievement
    • Encourage continuing creative expression
    • Foster productivity
    • Provide assistance and feedback
  • Menjelaskan Saran Tambahan Dalam Memupuk Iklim Belajar Kreatif

Menghargai kreativitas siswa.

  • Bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan baru.
  • Mengakui dan menghargai adanya perbedaan individual.
  • Bersikap menerima dan menunjang anak.
  • Menyediakan pengalaman mengajar yang berdiferensisasi.
  • Memberikan struktur dalam mengajar sehingga anak tidak merasa.
  • Ragu-ragu tetapi di lain pihak cukup luwes sehingga tidak menghamabat pemikiran, sikap dan perilaku kreatif anak.
  • Setiap anak ikut mengambil bagian dalam merencanakan pekerjaan sendiri dan pekerjaan kelompok.
  • Tidak bersikap sebagai tokoh yang “maha mengetahui” tetapi menyadari
    keterbatasannya sendiri.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

 

Bakat adalah anugrah yang tidak boleh disia-siakan dan harus dikembangkan secara maksimal. Setiap manusia terlahir dengan memiliki bakat tertentu. Bakat adalah sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk membangkitkan dan mengembangkannya Seperti halnya bakat, kreativitas yang dimiliki oleh seseorang juga anugrah yang harus dipergunakan secara tepat sasaran.

Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat , juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kreativitas erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kreativitas selalu berada dibelakang sebuah penemuan besar.

Kreativitas dan bakat sangat dibutuhkan individu untuk bisa melewati seleksi alam. Perpaduan keduanya juga sangat diperlukan untuk menghasilkan produk kreativitas yang bermanfaat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Utami, Munandar. 2009Kreativitas dan keberbakatanJakarta: Rineka cipta.

http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/13/jhptump-a-riajuhariy-603-2-babii.pdf

http://11094christynelisabeths.blogspot.com/2012/06/cara-mengajar-yang-kreatif.html

http://yohanayayangcitradevi.blogspot.com/2015/04/belajar-dan-mengajar-kreatif_57.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s