Kesehatan Mental (KESMEN)

Apa itu kesehatan mental? Mungkin belum banyak yang mengetahui atau mendengar tentang kesehatan mental atau kesmen. Banyak definisi kesehatan mental diberikan oleh para ahli sesuai dengan pandangan dan bidang masing-masing. Dari sekian banyak definisi yang diberikan, disini hanya dikemukakan beberapa diantaranya. Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan masyarakat dimana dia hidup. Menurut definisi ini, orang yang bermental sehat adalah orang yang dapat menguasai segala faktor dalam hidupnya sehingga ia dapat mengatasi kekalutan mental sebagai akibat dari tekanan-tekanan perasaan dan hal-hal yang menimbulkan frustasi.

Definisi lain, kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala kapasitas, kreativitas, energi, dan dorongan yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa kepada kebahagian diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan atau penyakit kesehatan mental.

Dalam sejarahnya kesehatan mental dibagi beberapa masa (1) zaman Prasejarah. Seperti apakah penyakit mental yang dialami oleh orang zaman prasejarah? Apakah penyakit mental mereka berbeda dengan penyakit mental dewasa ini? Tidak ada acara untuk mengetahuinya secara pasti. Ada spekulasi yang dapat diterima bahwa beberapa gejala penyakit mental dewasa ini sangat mirip dengan yang dijumpai pada zaman dahulu. Faktor-faktor baik dari dalam maupun dari luar atau dari lingkungan , binatang yang bisa dimakan, tidak munculnya buah-buahan pada musim semi. Memainkan peran terhadap penyakit mental dari manusia purba. (2) Peadaban-Peradaban Awal. Dalam semua peradaban awal di Mesopotania, Mesir, Yahudi, India, Cina, dan benua Amerika, imam-imam dan tukang-tukang shiri merawat prang-orang yang sakit mental. Diantara semua peradaban tersebut sepanjang zaman kuno (5000SM-500M), penyakit mental mulai menjadi hal yang umum (3) Abad Pertengahan (Abad Gelap). Dengan hancurnya peradaban Yunani-Romawi, kemajuan ilm pengetahuan di Eropa mengalami kemunduran. Banyak kebiasaan baik yang telah lama dibina dalam ilmu kedokteran sebelumnya tidak diteruskan, dan hal yang lebih buruk, takhayl-takhayul kuno dan ilmu tentang setan-setan (demonologi) dihidupkan kembali dan pemikiran teologis pada waktu itu kurang berusaha untuk mematahkan pendekatan yang bersifat spiristis terhadap masalah penyakit mental.

(4) Zaman Renaisans. Meskipun para pasien sakit mental tenggelam dalam dunia takahayul dan  lingkungan yang tidak berperikemanusiaan, namun di negara-negara tertentu di Eropa suara-suara diteriakkan oleh tokoh-tokoh agama, ilmu kedokteran, dan filsafat. Usaha-usaha mereka selama masa tersebut mungkin digambarkan sebagai “terang dalam kegelapan” (5) Abad XVII – Abad XX. Peralihan dan pendekatan demonologis ke pendekatan ilmiah terhadap penyakit mental tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Di Prancis, misalnya, hukuman mati bagi tukang sihir tidak dicabut sampai tahun 1862. Kecenderungan umum pertama terhadap perawatan khusus bagi para pasien sakit mental mungkin sekali muncul setelah pembaruan-pembaruan sosial, politik, dan ilmu pengatahuan yang menjadi ciri dari pertengahan abad ke-18.

Pendekatan Kesehatan Mental

Penyesuaian diri (adjustment) merpakan suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan karena (1) penyesuaian diri mengandung banyak arti, (2) kriteria untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas, dan (3) penyesuaian diri dan lawannya ketidakmampuan menyesuaiakan diri (malaadjusment) memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan perbedaan diantara keduanya.

Dari segi pandangan psikologi, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustasi dan konflik ketegangan pikiran/jiwa, atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti belajar bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan.

Konsep Penyesuaian Diri

            Meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik-konflik, frustasi-frusatasi, dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku simtomatik. Karena itulah ia relative bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan kronis, obsesi, atau gangguan-gangguan psikofisiologis.

Sumber: Semiun Yustinus, OFM. 2006. Kesehatan Mental 1 Pandangan Umum Mengenai Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental serta Teori-teori yang Terkait. Yogyakarta; KANISIUS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s